Mengapa Kita Tidak Dapat Mendengarkan Bunyi di Luar Angkasa?



Pernahkah kalian berpikir atau mengira saat berada di luar angkasa bisakah kita mendengar suara? Ruang angkasa merupakan ruang hampa udara, itu berarti tidak ada udara di sana. Karena itulah manusi tidak akan mungkin bisa mendengar suara saat di luar angkasa sebab tidak ada udara. Kok bisa gitu ya?

Benarkah Manusia Tidak Bisa Mendengar Suara di Luar Angkasa? Apa Alasannya?

Suara atau bunyi merupakan salah satu gelombang, yaitu termasuk dalam gelombang longitudinal. Arah rambat gelombang longitudinal adalah sejajar atau berimpit dengan arah getarnya. Yang termasuk dalam gelombang longitudinal adalah gelombang pada slinki dan gelombang suara saat berada di udara.

Gelombang suara berbentuk rapatan dan renggangan dalam perambatannya yang dibentuk oleh partikel-partikel perantara suara. Jadi, partikel-partikel ini adalah perantara saat gelombang bunyi merambat di udara.

Proses terjadinya suara adalah saat benda bergerak contohnya dentingan antara sendok dengan gelas, itu akan mendorong molekul yang berada di dekatnya. Molekul yang dipindahkan akan terjadi tabrakan dengan molekul tetangga mereka. Lalu molekul itu akan berlanjut Dan berpindah bertabrakan lagi dengan molekul tetangga terdekat yang lain. Gerakan itu akan berjalan di udara dan membentuk seperti gelombang. Ketika gelombang telah mencapai telinga maka telinga kita akan menerjemahkannya sebagai suara.

Pada saat gelombang suara melewati udara, tekanan udara di tempat tertentu akan mengalami gejolak atau berosilasi turun dan naik. Gambarannya seperti air yang beriak lebih dalam atau lebih dangkal saat dilempar batu. Waktu antara osilasi disebut frekuensi suara. Satuan frekuensi suara disebut Hertz. Satu osilasi per detik sama dengan 1 Hertz. Yang disebut sebagai panjang gelombang suara adalah jarak antara 'puncak' tekanan tertinggi.

Gelombang suara hanya akan mampu bergerak jika melalui medium jika panjang gelombang suaranya melebihi jarak rata-rata antar partikel. Para ahli fisika memberi julukan 'Mean Free Path' atau jalur bebas rata-rata yang merupakan jarak yang bisa dilalui oleh molekul setelah bertabrakan dengan 1 molekul dan sebelum bertabrakan dengan molekul lainnya.

Media yang lebih padat bisa membawa suara dengan panjang gelombang suara yang lebih pendek, dan begitupun sebaliknya. Suara yang memiliki gelombang yang lebih panjang memiliki suara yang lebih rendah atau yang kita ketahui dengan nada rendah.

Karena udara adalah faktor terjadinya rambatan suara, gelombang suara tidak akan bisa merambat di ruang hampa yang ada di luar angkasa sebab ketiadaan molekul-molekul udara sehingga suara yang berupa getaran tidak akan bisa bergerak. Jadi gelombang suara adalah getaran molekul-molekul yang menjalar dari satu molekul menuju molekul lain di sebelahnya atau tetangganya. Jelasnya di ruang angkasa tidak ada molekul yang menjadi sarana untuk getaran gelombang suara menjalar.

Meskipun sesorang berteriak sekencang-kencangnya sekalipun di luar angkasa pasti tidak akan terdengar. Hal ini seperti slogan populer pada tahun 1979 dari film 'Alien' yang merupakan film fiksi ilmiah yaitu "diluar angkasa, tidak ada satupun yang akan mendengar teriakan mu". dari slogan itulah yang membuat para peneliti dari University of Surrey untuk membuktikan kebenaran slogan tersebut.

Mereka menguji dengan cara mengumpulkan suara-suara suara atau teriakan-teriakan dalam sebuah aplikasi bernama The Scream in Space App yang telah diunduh dalam smartphone. Yang akan diluncurkan ke luar angkasa. Peneliti dari Cambridge University Space Flight lah yang telah mengembangkan aplikasi ini.

Selanjutnya smartphone diluncurkan ke angkasa dan akan memutarkan video yang berisikan suara-suara yang telah dikumpulkan. Uji coba ini dipantau oleh peneliti dari University of Surrey apakah getaran suara itu dapat terdeteksi oleh speaker yang telah dipasang pada satelit mini.

Sebenarnya misi ini dilakukan untuk peluncuran satelit mini bernama Strand-1. Satelit ini berukuran 10 x 30 cm dengan berat 4,3 kg. Sanwanee dirancang oleh sekelompok peneliti dari University of Surrey's Space Centre (SSC) dan Surrey's Satellite Technology (SSTL).

Lalu bagaimana para astronot berkomunikasi saat di luar angkasa? Saat berada di pesawat, tentu saja astronot masih bisa saling berkomunikasi karena masih ada udara dan oksigen. Lalu bagaimana saat mereka berkomunikasi di luar pesawat? Para astronot dilengkapi dengan pakaian khusus angkasawa yang bernama EMU yaitu Extravehicular Mobility Unit.

Dalam baju angkasawan tersebut terdapat alat radio untuk mereka berkomunikasi yang terdapat pada bagian helm. Mengapa radio masih bisa terdengar? Radio merupakan gelombang cahaya bukan gelombang suara sehingga gelombang radio akan tetap berfungsi walau di ruang angkasa sekalipun. Cahaya tidak membutuhkan media apapun untuk bergerak, tidak seperti gelombang suara yang membutuhkan udara sebagai media untuk bergerak.

Sebenarnya di angkasa tidaklah benar-benar hampa. Ruang angkasa dipenuhi dengan banyak benda seperti bintang-bintang, awan gas, dan debu. Jika di bumi, sebenarnya gas juga dapat menjadi penghantar gelombang suara, namun gas yang ada di luar angkasa berbeda dengan yang ada di bumi.

Awan gas yang terdapat di luar angkasa tidak sepadat seperti awan gas yang ada di atmosfer bumi. Kalaupun ada gelombang udara, hanya ada beberapa atom per detik yang mempengaruhi gendang telinga manusia. Maka dari itu saat di luar angkasa gendang telinga manusia tidak bisa mendengar gelombang suara tersebut.

0 Comments

Posting Komentar