error: Content is protected !!

Ada Sesuatu Di Wajahmu, Apa itu?

Sebelumnya kami buka, bukan untuk mengolok-ngolok wajah kamu, karena kita semua adalah ganteng dan cantik, Setidaknya di mata orang tua kita. 

Kalian tau ada sesuatu di muka, yang kami maksud adalah hewan yang hidup di wajah, kita tidak dapat melihatnya, tetapi mereka ada di sana. Mereka adalah mikroskopik meet atau tungau mikroskopis makhluk berkaki delapan, yang mirip laba-laba.

Tapi jangan khawatir, hampir setiap manusia memiliki mereka diwajahnya. Dimana mereka menghabiskan seluruh masa hidup mereka diwajahmu :), 

Apa itu? Kita akan membahas demodex, tunggu-tunggu sebelum kamu mulai pergi ke kamar mandi untuk cuci wajah, kami harus bilang kalau penumpang mikroskopis ini mungkin bukanlah masalah yang serius. 

Bisa dibilang mereka hampir tidak berbahaya, mereka justru dapat membantu mengungkap sesuatu yang tidak kita sadari. Ada dua spesies tungau yang hidup di wajah kamu, Eh iya wajah kami juga hehehe.

Yaitu demodex folliculorum dan demodex
brevis. seperti laba-laba, demodex memiliki delapan kaki pendek dan gemuk. Tidak ada kepalanya, tubuh mereka memanjang hampir seperti cacing, dibawah mikroskop mereka tampak seolah-olah sedang berenang dalam lautan minyak diwajah kita Lambat dan Bantet. Kedua spesies demodex hidup di tempat yang sedikit berbeda. 

demodex folliculorum sesuai namanya berada di pori-pori dan folikel rambut, 

sedangkan demodex brevis lebih memilih untuk menetap di area yang lebih dalam. Umumnya di kelenjar sebasea yang berminyak. Dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, wajah memiliki pori yang lebih besar dan memiliki kelenjar sebasea yang lebih banyak. kelenjar sebasea adalah kelenjar penghasil sebum, atau minyak dikulit dan nanti kita sama-sama tahu mengapa tungau ini memilih hidup di sana.

Sebenarnya para ilmuwan telah mengetahui bahwa manusia memiliki tungau wajah sejak lama. Demodex folliculorum sendiri ditemukan pada kotoran telinga manusia di Prancis. Pada tahun 1942, Demodex adalah arthropoda kelompok hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen, seperti serangga dan kepiting.

Kerabat terdekat mereka adalah laba-laba dan tick, Tick itu apa ya? kalau kutu-kan flea, Coba kasih gambarnya. Nah Lihat kerabat terdekat mereka adalah laba-laba dan tick.

Kami yakin nggak semua orang akan senang dengan berita ini, ialah Siapa juga yang mau dengar kalau kita punya arachnids di wajah kita. Tapi jujur, meskipun agak geli, Kami penasaran bagaimana makhluk kecil ini bisa hidup di wajah banyak orang, tapi luput dari perhatian.

Sebagian besar kulit kita ditutupi oleh bulu tipis, yang disebut rambut vellus, kecuali di telapak tangan dan telapak kaki. Nah Batang dari setiap rambut vellus ini tumbuh dari folikel-nya sendiri dan disinilah tungau imut dan menggemaskan ini menghabiskan hari-hari mereka tertelungkup di dalam folikel rambut kita, hah kita? iya kita semua wkwk, mereka bersandar di Batang rambut.

Dimana kita tidak dapat melihatnya. Geli banget, mereka memakan sibuk minyak yang diproduksi kulit, untuk melindungi permukaannya, minyaknya menjaga kulit agar tidak mengering. Sebelum diproduksi oleh kelenjar sebasea yang bermuara di folikel rambut dan secara langsung melapisi batang rambut.

Dan di bagian tubuh kamu yang paling berminyak, seperti disekitar mata, hidung dan mulut, kemungkinan memiliki konsentrasi demodex yang lebih tinggi dari pada area lain. Oke kami kasih waktu
untuk menggaruk muka kamu.

Lanjut ya, demodex memiliki masa hidup dua minggu. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka nyelip di dalam pori-pori. Tapi saat kamu sedang tidur, mereka akan keluar dari zona nyaman, merangkak keluar ke permukaan kulit kamu. Untuk kawin, hah untuk kawin? iya kawin, lalu menyelinap kembali ke dalam pori-pori untuk bertelur.

Telur mereka cukup besar kira-kira sepertiga, hingga setengah ukuran tubuh mereka, dan biasanya mereka bertelur satu hingga dua butir setelah kawin di atas wajah kamu. Ngomong-ngomong tentang telur dari segitu banyaknya sel kulit mati dan sibum yang mereka makan, mereka harus eek dong.

Tapi anehnya, demodex tidak memiliki anus. Mereka tetap masih perlu eek, tapi mereka membawa eeknya didalam tubuh mereka. Setelah dua minggu mereka mati, dan semua limbah yang tertumpuk itu akan terurai di wajah kamu. Ini serius, iya serius, (ekspresi kalian gimana ya?) karena mereka tinggal di dalam pori-pori kamu, eh iya kita semua, nggak bisa dengan mudah mencuci mereka, 

kalau digosok gimana?
Jangan dong nanti sakit,
Jadi gimana dong?
Iya biarin aja, karena pada dasarnya tidak mungkin untuk menyingkirkan semua demodex dari wajah kita.

Michelle Trautwein ahlinya entomologi di California Academy of Science di San Fransisco, yang secara khusus mempelajari tungau wajah ini. Michelle mengatakan bahwa ia sudah mengetahui ciri khusus pori-pori yang dihuni demodex, Michelle menyebutnya dengan di Demodex Frost. Michelle mengungkapkan lebih lanjut, kalau di Demodex Fors ini seperti kilau putih pada kulit, dan jika dilihat lebih dekat, kita bisa melihatnya keluar dari setiap pori-pori yang menjadi hunian demodex. Jika kita mengikis pori-pori itu maka keluarlah tungau-tungau kecil ini,

Namun kamu bisa mengatakan bahwa kita nggak perlu khawatir. Sebaliknya, kami mengimbau untuk melihat demodex sebagai sumber ketertarikan daripada sumber ketakutan. Karena biasanya sistem kekebalan tubuh kita akan menjaga kita dari pengaruh buruk demodex

Dalam hal ini adalah simbiosis komensalisme dan mereka sebenarnya bukanlah penumpang yang buruk, satu hal yang dikaitkan dengan mereka adalah gangguan kulit yang disebut rosacea. Ini sangat mengganggu sebagian orang, gejalanya dimulai dengan kemerahan yang kadang-kadang berkembang menjadi kemerahan permanen.

Bintik-bintik, dengan sensasi terbakar atau kaku. Penelitian telah menemukan bahwa orang yang menderita rosasea, cenderung memiliki lebih banyak populasi demodex. Jika normalnya kita memiliki satu atau dua ekor demodex per sentimeter persegi. Pada kulit orang yang mengidap rosasea memiliki 10 hingga 20 ekor demodex per sentimeter persegi pada kulit yang ketika mereka mati, otomatis limbahnya semakin banyak dan limbah demodex dapat mengandung bakteri yang menyebabkan iritasi. Tapi sekali lagi hubungan antara rosacea dan demodex masih agak renggang, karena beberapa peneliti berpendapat kalau penyebab rosasea adalah paparan sinar matahari, stres, olahraga berat, perubahan suhu yang drastis, minuman yang terlalu panas, alkohol, kafein, dan makanan pedas.

Kita tidak terlahir membawa Demodex, tapi tungau wajah ini diturunkan dari orangtua ke bayi, orang tua kita, mendapatkannya dari kakek-nenek kita,
kakek-nenek kita mendapatkannya dari buyut kita, begitu seterusnya. Dari demodex secara dekat kita dapat mengetahui hal tentang leluhur kita, baik secara genetik atau secara geografis. 

Demodex merupakan spesies hewan yang paling dekat dengan kita, sebagai manusia. Meskipun kebanyakan dari kita tidak tahu tentang mereka atau bahkan tidak pernah melihat mereka seumur hidupnya. Kita dan demodex memiliki hubungan yang sangat baheula dan intim. Karena manusia memiliki mereka sepanjang perjalanan hidupnya dan karena mereka sudah lama tinggal bersama kita mungkin saja sistem kekebalan tubuh kita telah berubah.

sebagai hasilnya, tungau kecil ini mungkin telah membantu membentuk cara manusia merespons, tak hanya pelajaran sederhana di sini. Kamu yang sesungguhnya bukanlah kamu. Kamu adalah ekosistem yang menyatu dalam satu tubuh dan saya yakin kamu nggak akan pernah lagi merasa kesepian.

Dari demodex kita belajar untuk tidak mencari muka, karena Siapa tahu muka yang kamu cari mengandung lebih banyak demodex daripada muka yang kamu
miliki sekarang.

0 Comments

Post a Comment